Minggu, 10 Maret 2013

Lontar Resi Waisnawa



Isi Singkat Lontar Resi Waisnawa

Pada saat pemerintahan Ida Dewagung Airlangga di Jawa Agama Siwa dan Buda disatukan dan keduanya ini datang ke Bali yang dibawa oleh Mpu Kuturan dengan Mpu Pradah.
Mpu Pradah beragama Buda, Mpu Kuturan beragama Siwa.
Mpu Kuturan turun di Padang Karangasem, dan di situlah beliau mendirikan parhyangan dan memberi ajaran Siwa Buda.
Ketika Prabu Airlangga wafat, abu jenasah beliau dipuja di Belahan dan dibuatkan patung Bhatara Wisnu mengendarai Garuda.
Dengan demikian Ida Mpu menganut Siwa Waisnawa.
Kemudian pemerintahan Ida Dewagung Jayapangus di Bali pada Çaka 1103 datanglah seorang Mpu Gantaya dan Resi Aruna menganut paham Siwa Waisnawa.
Kemudian Resi Waisnawa berubah menjadi Sangguhu Waisnawa, Sang Siwa Pasupati sebagai Brahmana, Sang Buda Mahayana menjadi Boda anak Sang Siwa Waisnawa menjadi Sangguhu Bujangga.
Siwa Waisnawa melaksanakan upacara penangluk-merana (hama) dengan Catur Stawa. Pebersihan/ Pelaksanaannya diselenggarakan oleh Tri Sadaka seperti Pendeta Siva, Pendeta Buda dan Sengguhu Bujangga.
Hikmahnya: Pendeta Siwa menyucikan ruang angkasa, Buda menyucikan air (apah). Bujangga menyucikan tanah (Pertiwi).
Tri Sadaka ini yang bertugas menyelesaikan segala upacara-upakara seperti panca-yadnya.
Sang Brahmana patut menyucikan akasa atau sesajen untuk para Dewa, Sang Boda dapat menyucikan pitara pitara (roh leluhur) sedangkan Sang Guru Bujangga dapat menyelesaikan upacara Dewa dan Butakala.
Sri Aji Kepakisan bersama Ni Laksmini mempunyai bergelar Dalem Ularan, dan beliau mempunyai tiga orang putra yang bernama Ida Dalem Batur Enggong.
Tetapi Sri Aji Kepakisan berguru dengan Brahmana dan Ni Laksmini berguru dengan Sang Boda.
Diceriterakan Ida Dalem Watur Enggong bersama putranya Ida Dalem Ularan mengalih ke Mangwi, datanglah utusan yang ingin membunuh Ida Dalem Waturenggong.
Putra Ida Dalem Waturenggong mengungsi ke Kaliwungu bertahun-tahun, hingga sampai 10 tahun.
Ida ini menuntut kekuasaan setelah dewasa.
Putranya itu bernama Mukya Kaliwungu.
Ida Dalem Ularan menjadi Satria Klungkung dan putranya bernama Dewa Gede Tamu dan Dewa Made Ukiran serta putrinya Dewa Ayu Wadati.
Diceriterakan Sang Bujangga Esti Guru dan Ni Dayu Riris pindah dari Watu Wulan ke Jungutbatu dan Gusti Mong Arig menempati desa Klating.
Kemudian Sang Bujangga Estiguru berganti nama menjadi Ida Sang Bhujangga Kreta. Dan I Gusti Mong Arig memerintah di Jungutan Batu berputra empat orang yang bernama Si Ngurah Macan Poceh, dan Si Ngurah Tohjaya, Si Ngurah Jungutbatu serta Ni Dayu Songkrog.
Ida Sang Bujangga Kreta di Tohjaya mempunyai lima orang putra yang bernama Ida Bagus Catra, Ida Bagus Gatra, Ida Bagus Met dan Ida Bagus Citra, Ida Bagus Gatra. Ida Bagus Gatra datang ke Badung banjar Titih.
Ida Bagus Buja berada di Tenganan, Ida Bagus Bagendra diangkat oleh Resi Cakra dan bertahta di Tambahu.
Ida Bagus Bagendra di Kayuputih atau Swanegara.
Ida Sang Estiguru berputra Ida Sang Guru Tahak berstana di Batubulan.
Setibanya I Gusti Sakra, didatangi/ disambutlah oleh para hamba beserta rakyat semua untuk mendengarkan wejangan wejangannya mengenai cara menangluk-merana.
Hama tikus dan belalang sangit diusirnya dari daerah persawahan untuk menghilangkan kemelaratan
Nama/ Judul Babad : Resi Waisnawa
Nomor/ kode : Va. 4742. Gedong Kirtya, Singaraja
Koleksi : Geria Sunya,
Alamat : Kaba-kaba, Kadiri, Tabanan
Bahasa : Jawa Kuna Tengahan bercampur Bali
Huruf : Bali
Jumlah halaman : 23 halaman
Ditulis oleh : Geria Sunya
Sumber : Pasraman Kertha Dharma



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar