Minggu, 10 Maret 2013

Ratu Niang Sakti



Ratu Niang Sakti

Kini tersebutlah Danghyang Nirartha, seorang pendeta utama datang ke tanah Bali pada tahun Saka 1411 bersama istri dan putra-putranya, yakni: (1) Ida Ayu Swabawa, (2) Ida Kuluwan, (3) Ida Lor, (4) Ida Wetan, (5) Ida Rai Istri, (6) Ida Tlaga, (7) Ida Nyoman Kaniten. Adapun Danghyang Nirartha menaiki waluh kele / waluh pahit, istri dan putra-putranya menaiki perahu bocor. Karena kesaktiannya segera sampai di Bali, istirahat di bawah pohon ancak. Kemudian didirikan parhyangan bernama Pura Ancak. Ada bisama/ putusannya kepada keturunannya, tidak boleh makan waluh selama-lamanya.

Dikisahkan, perjalanan Danghyang Nirartha ke arah timur, tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang mengangakan mulutnya bagaikan goa. Masuklah beliau, ke mulut naga, dan di dalam ditemuinya telaga berisi bunga tunjung sedang mekar di dalamnya, ada yang putih, merah dan hitam. Lalu dipetik bunga-bunga itu.

Ketika beliau keluar dari perut naga, sirnalah naga itu, wajah Danghyang Nirartha berubah-ubah dan menyeramkan, terkadang merah, hitam, dan putih silih berganti. Itu sebabnya pucat istri dan para putranya melihat sang rsi. Kemudian terlihat istrinya Sri Patni Kiniten demikian juga putra-putranya. Tetapi Ida Ayu Swabawa terlihat paling akhir dalam keadaan pingsan, karena diperdaya oleh orang desa di Pagametan. Lalu marah sang Rsi seraya mengutuk orang Desa Pagametan menjadi wong samar bernama wong Sumedang berikut desanya disirnakan. Demikian kisahnya.

Adapun Ida Ayu Swabawa sirna sebagai dewa wong Sumedang, berstana di Pura Melanting disembah sebagai Dewi Pasar. Ibunda beliau Sri Patni Kaniten sirna di Pulaki menjadi Batari Dalem Pulaki. Demikian juga putrinya yang bernama Ida Rai Istri, ketika mengikuti perjalanan Danghyang Nirartha, lalu sirna di Alas Sepi bernama Suwung, disembah di Pura Griya Tanah Kilap, Desa Suwung Badung, bergelar Batari Lingsir atau Betari Ratu Niyang Sakti.
Jika kita melihat dengan mata batin ratu niang terkadang perwujudanya Cantik sekali dengan Rambutnya yang Panjang, kadang perwujudannya seorang Nenek nenek dengan memegang tongkat sambil berjalan bungkuk......karena saya orang jawa terbiasa saya panggil Nenek (dirumah) jika dengan orang sini saya panggil Niang .....itu sebetulnya Secret.........Niang masih ada hubungan dengan Ide Ratu Gede Dalem Ped.....dan setiap ada pelinggihnya Niang pasti ada pelinggihnya Ratu Gede....selalu berdampingan yang tidak bisa terpisahkan dalam artian dikehidupan sebelum kita ada beliau sudah saling mengasihi dan menyayangi.......kemanapun niang pergi selalu dijaga oleh ida ratu gede.......
Mendengar kata ratu niang tak terasa tengkuk ini semakin dingin....dengan kelembabannya..... pada dasar Ratu Niang bisa sama karena perwujudan beliau juga dengan banyak nama sesuai dengan wilayah dan daerahnya kan tetapi tetap satu.....dengan berbagai nama tersebut sesuai dengan tatanan dalam koridornya dengan fungsi tugas yang berbeda beda ......jika salah mohon dimaafkan Misalkan Istilah Penunggun Karang dalam Sastra Dresta disebut Sedahan Karang (di perumahan) untuk membedakan dengan Sedahan Sawah (di sawah) dan Sedahan Abian (di kebun/ tegalan/ abian).
Dalam lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang, atau Patih.
Agama lain disenangi Ratu Niang ;
Mengingatkan kejadian tahun lalu., ijinkan may sedikit cerita. May dulu adalah seorang Kristen Protestan, sebelum di sudi wadani, may sakit-sakitan selama kurang lebih 3 bulan. Tidak jelas penyakitnya, tapi pernah dibilang kena tipes. Pada hari raya Galungan, may nangkil ke pura Melanting, Pulaki. Nah, sejak saat itulah may tidak pernah sakit lagi. Kemudian bulan februari 2012 may disudi wadani di pura besakih oleh YJHN, may lupa, disana ada yg mengatakan kalau may disenengin sama bethara-bethari yg melinggih di Pura Melanting, alangkah terkejutnya may bapak tsb mengungkapkan sebuah kebenaran, karna sejak saat itu may tidak sakit-sakitan lagi. Beliau juga mengatakan bahwa Leluhur may berstana di Pura Dalem Ped. May asli sasak, orang Lombok, bagaimana mgkn? Semua kejadian ini seperti kebetulan yg tidak kebetulan. Apalagi setelah menyimak comment-comment, semua yg may alami memang ada hubungannya., may sangat penasaran sekali. Mohon bersedia kiranya pada may yg masih bingung mencari jati diri.
Pengakuan  Riyanto :
SENANG MENDENGAR, RATU MELANTING SERING SAYA PANGGIL RATU CANTIK.....DENGAN BERPARAS CANTIK....DAN MASIH KETURUNAN KANJENG RATU KIDUL SEBAGAI CUCU.....NYA
PERNAH SAYA MELAKSANAKAN PERSEMBAHYANGAN DI PURA MELANTING DAN DISANA SAYA JUGA DISAMBUT DENGAN PERPUTARAN ANGIN PUTING BELIUNG DI SAMPING SAYA KAN TETAPI YANG LAIN TIDAK MELIHATNYA...SETELAH SAYA TANYA TEMAN ADA ANGIN YANG DATANG YA...ENGGAK....YA SETIAP INSAN BERBEDA PENGANUGRAHANNYA.....KARENA NAGA KANAN DAN KIRNYA SEBAGAI PENGAWALNYA........MENYAMBUT KEHADIRAN SAYA SEAKAN MENYAMPAIKAN SELAMAT DATANG .....
Kalau kita lihat antara klungkung dengan nusa penida adalah sangat dekat tentunya silsilah terjadinya pasti tidak jauh dari sejarahnya Pasek Gel Gel Klungkung atau Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Pentaran Agung Ped sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan yang lama. Kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja -- Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.
Seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya tentang Selayang Pandang Pura Ped beranggapan bahwa kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.
Selain itu, beberapa petunjuk yang menyebutkan pura itu pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.
Meski demikian, hal itu seolah-olah terbantahkan. Karena seorang tokoh masyarakat Desa Ped, Wayan Sukasta, secara tegas menyatakan bahwa nama sebenarnya dari pura tersebut adalah Pura Penataran Agung Ped. Terbukti dari kepercayaan warga-warga sekitar saat ini. Walaupun ada yang menyebutkan pura itu dengan sebutan Pura Dalem, yang dimaksud bukanlah Pura Dalem yang merupakan bagian dari Tri Kahyangan (Puseh, Dalem dan Bale Agung). Melainkan Dalem untuk sebutan Raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. Dalem atau Raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling, katanya.
Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Pura Segara, sebagai tempat berstananya Batara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian.
Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagi pelebaan Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Batara-batara pada waktu ngusaba.
Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.
Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan atau pemugaran. Kecuali benda-benda yang dikeramatkan. Contohnya, dua arca yakni Arca Ratu Gede Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Arca Ratu Mas yang ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua arca itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Begitu juga bangunan-bangunan keramat lainnya. Kalaupun ada upaya untuk memperbaiki, hal itu dilakukan dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan yang dikeramatkan tersebut.
Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmani). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, krodanya adalah kematian. Kami semuanya mengaturkan sembah kepada-Nya.
PURA Dalem Penataran Peed di Nusa Penida itu adalah pura untuk memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara nyata kekuatan Purusa tersebut.
Karena itu umat Hindu berbondong-bondong rajin bersembahyang ke Pura Dalem Penataran Peed untuk mendapatkan keseimbangan daya hidup, baik daya spiritual maupun daya fisikal. Karena hanya keseimbangan peran dan fungsi rohani dan jasmani itulah hidup yang harmonis di bumi ini dapat dicapai.
Pemujaan Tuhan sebagai pencipta unsur Purusa dan Pradana ini divisualkan dalam wujud pemujaan di Pura Dalem Penataran Peed. Visualisasi itu merupakan perpaduan konsepsi Hindu dengan kearipan lokal Bali. Di Pura Dalem Penataran Peed ini terdapat dua arca Purusa dan Predana dari uang kepeng yang disimpan di gedong penyimpenan sebagai pelinggih utama di Pura Dalem Penataran Peed. Arca Purusa Predana inilah yang memvisualisasikan kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan waranugraha keseimbangan hidup spiritual (Purusa) dengan kehidupan fisik material (Predana).
Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan Batara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala simbol kekuatan fisik material berupa ruang dan waktu. Bhuta itu membentuk ruang dan Kala adalah waktu. Waktu timbul karena ada dinamika ruang. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohini dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jambu Dwipa -- kompyang dari Dukuh Jumpungan.
Dukuh Jumpungan itu lahir dari pertemuan Batara Guru dengan Ni Mrenggi, dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut limun. Karena itu disebut Hyang Kalimunan. Kama Batara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murti dan menjadi manusia. Setelah digembleng berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian, dan oleh Hyang Tri Murti terus diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal I Mecaling. Inilah yang selanjutnya disebut Ratu Gede Nusa.
Ratu Gede Nusa ini berpenampilan bagaikan Batara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari Geria Taman Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian Sejarah Pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan sbb: saat Batara di Gunung Agung, Batukaru dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali diiringi oleh seribu lima ratus (1.500) orang halus (wong samar).
Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Gede Nusa atas wara nugraha Batara di Gunung Agung. Batara di Gunung Agung memberi wara nugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa brata-nya yang keras. Atas tapa brata itulah Batara di Gunung Agung memberi anugrah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan perbuatan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
Di Pura Dalem Penataran Peed ini Ida Batara Dalem Penataran Peed dipuja di Pelinggih Gedong, sedangkan Pelinggih Ratu Gede Nusa berada areal tersendiri di barat areal Pelinggih Dalem Penataran Peed. Pelinggih Dalem Penataran Peed ini berada di bagian timur, sedangkan Pelinggih Padmasana sebagai penyawangan Batara di Gunung Agung berada di bagian utara dalam areal Pura Dalem Penataran Peed. Di Pura Dalem Penataran Peed ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi.
Dengan demikian Pura Dalem Penataran Peed itu sebagai Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.
Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai penyakit.
Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu. Hari Budha Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.
Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyimpanan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Peed ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mendampingi Raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung.
* I Ketut Gobyah
Tabepekulun,Ratu Niang memang lebih terkenal di denpasar dan sekitarnya..org dr luar denpasar biasanya akan bertanya siapa Ratu Niang itu..kalo saya menyebut beliau dengan Ratu Niang Sakti yg berstana di pura tanah kilap di suwung..di mertasari sanur jg ada pura dalem pengembak yg melinggih disana adalah Ratu Niang Ayu..hubungannya??saya blm sempat bertanya sama guru saya..tp kayaknya ada kaitannya satu sama lain...Ratu Niang Sakti dipercaya sebagai penguasa para mahluk halus..MUNGKIN jika ada pedagang yg bawa daksina kesana dan daksinanya dipendak ke warungnya,MUNGKIN salah satu mahluk halusnya diperintahkan utk ikut ke warung tsb.kalo kita sembahyang ke pura tanah kilap,kita akan melihat banyak pelinggih disana,itu karna pengabih beliau ada banyak,salah satunya adalah Ratu Bagus.beliau adalah salah satu favorit saya,beliau adalah Bhatara berbadan (tabepekulun) cebol,cungih(congek),perokok berat dan senang minum arak api..beliau punya wewenang mencabut nyawa bayi...kalo sembahyang ke tanah kilap lihat dibelakang pelinggih Ratu Niang ada pelinggih isi bola2an,mainan anak2,dan bahkan layangan.
Pertanyaan :
Ratu Niang..sebelumnya yang sudah ada....sebelum okan Danghyang Niararta,...Yang melinggih di Gunung agung...atas semadi seorang brahmana Danhyang Sidhimantra...Ratu Niang dalam bhatinnya jatuh cinta dengan brahmana itu dan melahirkan seorang Putra..Ki Kebo Iwa...dan didarma putra oleh Sri Karang Buncing..yang lahir melalui Padipaan..
Sejarahnya Ratu Niang sane berstana ring Gunung Agung...dan yang berperyangan ring Pura Kepah Punggul dalem Ped....dan putra belau Ratu Gde dan putun Ida, Ratu Ayu....sapunapi juga dengan Ratu Niang Gobleg, Ratu Nyang tan mebusana ...sane bertugas ring pasar...
Semoga berguna informasi ini, walaupun tidak lengkap karena niskala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar