Jumat, 04 Januari 2013

SANGGAH RONG TIGA



SANGGAH RONG TIGA
OLEH ; GURU RAKANADI, SELASA, 07-08-2012
Zaman dahulu antara tahun 2000 sampai dengan 500 S.M telah terjadi perpindahan bangsa Austronesia secara bergelombang dari Asia Tenggara di Ulu Sungai Mekang, Yunan Selatan ke berbagai pulau/kepulauan. Mereka datang antara Madagaskar di barat sampai pulau Paska di timur, dan antara pulau Formusa di utara sampai pulau Selandia Baru di selatan. Termasuk ke kepulauan Nusantara.
Kedatangan mereka ke kepulauan Nusantara terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi sekitar tahun 2000 SM, dan gelombang kedua terjadi tahun 500 SM. Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang pertama disebut Proto Melayu. Bangsa Proto Melayu masih menggunakan alat-alat dari batu, tetapi cara pembuatannya sudah sangat halus. Oleh karena itu mereka disebut pendukung kebudayaan batu baru. Dan zamannya disebut zaman Batu Baru (Neolitikum). Diperkirakan bangsa Proto Melayu ini juga pernah mendiami daratan Bali. Hal ini terbukti dari ditemukannya peninggalan-peninggalan zaman Batu Muda tersebar di pulau Bali (Soekmono, 1073).
Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang kedua disebut dengan Deutro Melayu. Bangsa Deutro Melayu inilah yang merupakan nenek moyang sebagai orang Bali Asli. Adanya sebutan Bali Mula adalah untuk membedakan dengan orang-orang yang leluhurnya datang belakangan ke Bali, yang mereka datang umumnya dari Jawa. Orang-orang Bali Mula adalah keturunan orang-orang pemberani, wira usaha mandiri, pelaut yang ulung, kemudian menjadi petani yang tangguh. Mereka hidup secara berkelompok (Sutaba, 1980:19).
Dari temuan-temuan Arkeologi disimpulkan bahwa ada tiga jenis pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat Bali karena pengaruh Austronesia yang berkembang pada zaman itu, yaitu:

•  Pemujaan terhadap arwah leluhur.
•  Pemujaan terhadap arwah para pemuka masyarakat.
•  Pemujaan terhadap kekuatan alam.
Roh-roh tersebut dapat memberikan perlindungan dan pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan bencana. oleh karena itu untuk mengambil hati roh-roh tersebut (agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya memberikan bantuan) maka roh tersebut dipuja melalui persembahan saji-sajian. Yang pertama yang dipuja adalah roh orang-orang besar dan roh nenek moyang, yang disebut Hyang atau Dang Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di Kemimitan Sanggah/Pemerajan.
Mengenai susunan masyarakat nenek moyang pada zaman itu dapat diperkirakan bahwa mereka sudah mempunyai sistem kemasyarakatan yang teratur. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok tertentu menempati wilayah tertentu, yang disebut wanua. Setiap wanua dipimpin oleh yang dituakan dan yang dianggap paling bertuah, yang disebut tuha wahana. Tuha wahana dibantu oleh beberapa perangkat wahana seperti tuha alas, hulu air, hulu watan dan sebagainya. Disamping itu terdapat dewan tuha-tuha sebagai pendamping tuha wanua.
Mata pencaharian utama bagi yang tinggal di pedalaman adalah bertani dan berternak. Sedangkan yang tinggal di pantai adalah menangkap ikan dan pelayaran dengan perahu bercadiknya. Di samping itu terdapat juga pekerjaan-pekerjaan sambilan seperti dukun dan pertukangan. Oleh karena majunya pertukangan pada zaman itu maka zaman itu juga disebut zaman pertukangan (zaman perundagian). Dengan adanya spesialisasi pekerjaan tersebut, maka mulailah sistem perdagangan secara tukar-menukar (barter).
Dengan adanya kemajuan dalam pembikinan alat-alat pertanian maka hasil-hasil pertanian semakin meningkat. Oleh karena itu tukar menukar tidak hanya dilakukan dalam wanua sendiri, tetapi sudah terjadi barter antar wanua. Disamping itu nenek moyang kita yang memang merupakan pelaut-pelaut ulung secara aktif ikut terlibat dalam perdagangan dengan perdagangan luar negeri seperti India dan Tiongkok.
Jauh sebelum datangnya pengaruh Hindu ke daerah Nusantara, berdasarkan hasil-hasil penelitian arkeologi yang dilakukan para ilmuwan Barat dan putra Indonesia, di Indonesia telah mempunyai kebudayaan yang tinggi mutunya. Kebudayaan Indonesia asli yang dimaksudkan disini adalah kebudayaan sebelum datangnya pengaruh kebudayaan Hindu atau disebut pula Kebudayaan Pra-Hindu atau Pra Sejarah. Kebudayaan ini berakar pada kebudayaan bercocok tanam yang berlangsung pada tahun 2500 SM.
Guna kepentingan pemujaan arwah leluhur, pada masa perundagian masyarakat Indonesia mendirikan bangunan tempat pemujaan yang disebut punden berundak yaitu bentuk bangunan yang teras piramida dimana pada bagian atasnya ditempatkan: menhir. Pada perkembangan selanjutnya menhir sebagai lambang tempat pemujaan arwah leluhur digantikan dengan wujud arca sederhana atau ada yang menyebut arca primitif karena bentuknya memang sangat sederhana.
Beberapa ilmuwan Barat menyatakan pendapat yang sama seperti: Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali, 1937 menyatakan: The Balinese Assimilate New and Foreign Ideas Into Tradisional Form. Demikian pula Fritaz A Wagner, 1959 dalam bukunya Indonesia, The Art of an Island Group menyebutkan: On Bali Culture Develop a unique character, Pra Hindu, Hindu-Budha, Hindu Javanese element merged to form unity and diversity.
Menurut ilmuwan Perancis Dr. G. Cocdes yang ahli tentang sejarah kuna Asia Tenggara dalam bukunya The Indianized State in South East Asia , 1968 menyatakan ada beberapa elemen-elemen kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara sebelum datangnya pengaruh Hindu adalah :
•  Penanaman padi dengan sistem pengairan.
•  Menjinakkan binatang, lembu dan kerbau.
•  Teknik menuang logam.
•  Kepandaian dalam pelayaran.
•  Sistem kekerabatan material.
•  Dibidang kepercayaan, percaya pada pemujaan roh leluhur.
•  Tempat sucinya berbentuk teras piramid dengan menhir di atasnya.
•  Sistem penguburan dengan memakai sarkofa dan tempayan.
•  Konsep cosmological dualisme yaitu gunung dan laut.
Dr. WF Stutterhiem dalam tulisannya yang berjudul Indian Influence in Old Balinese Art, 1935 menyatakan: “ The Balinese applaid the aquired knomledge from Indonesian order arrive at his own system”. Sebagai contoh kearifan lokal kebudayaan Bali pada aspek keagamaan adalah sistem pemujaan arwah leluhur yang dianut masyarakat pada masa megalitik melanjut terus setelah datangnya kebudayaan Hindu. Kedua sistem kepercayaan ini berdampingan antara pemujaan arwah leluhur (Hyang) yang disebut bhatara dan pemujaan Tuhan yang disebut Hyang Widhi Wasa atau Hyang Parama Kawi.
Demikian pula tempat-tempat pemujaan atau Pura, ada yang dikelompokkan untuk pemujaan roh suci leluhur (bhatara) disebut : Pura Dadia atau Paibon, Padharman dan untuk Hyang Widhi disebut Kahyangan Jagat seperti Kahyangan Tiga dan Sad Kahyangan. Di dalam pura ada bangunan suci tempat pemujaan roh suci leluhur dan Hyang Widhi dibangun berdampingan yaitu Padmasana sebagai Singgasana Hyang Widhi dan Kemulan, Pajenengan sebagai tahta Ida Bhatara, leluhur suci.

Terjadinya hubungan antara kedua kebudayaan antara pra sejarah dan Hindu mewujudkan satu integrasi yang utuh antara tradisi, agama dan kebudayaan serta mewujudkan suatu konfigurasi nilai yang menjadi landasan dasar bagi pembentukan identitas manusia dan masyarakat Bali. Konfigurasi nilai dasar tersebut terdiri dari nilai-nilai solidaritas, estetis dan religius.
Kemudian datang pengaruh agama Hindu dengan filsafat-filsafatnya. Mengenai Sanggah Kemulan Rong Kalih dan Rong Tiga dapat saya ajak saudara ke bidang filsafat yaitu filsafat Sangkhya. Filsafat India ini yang merupakan filsafat dualistis datang juga ke Bali dengan ajaran Cetana dan Acetananya. Karena memang manusia Bali sudah mempunyai kearifan lokal pelajaran filsafat Sangkhya itu diolah sesuai dengan desa kala patra yaitu keadaan daya pikir manusia Bali yang menganut Siwaistis. Oleh karena keadaan Cetana dan Acetana diganti dengan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa Atma yang disebut Maya Siwa Tattwa.
Apabila Cetana dan Acetana terpisahkan akan lenyaplah alam semesta ini bagaikan impian yang lenyap mengikuti kesadaran yang bangun dari tidur. Cetana itu ada yang bersifat kuat, sedang dan kendor (lemah) maka menurut sifatnya dibagi atas tiga bagian masing-masing dengan nama: Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwatma atau Sanghyang Mayasiwa Tattwa.
Parama Siwa Tattwa
Parama Siwa Tattwa, menjadi sumber dari segala yang hidup, yang memenuhi luar dan dalam dari segala yang ada, baik yang nampak maupun yang tiada tampak. Dialah kesadaran yang tertinggi yang tiada terjamah oleh lupa yang sejati hidup. Dialah yang disebut dengan nama Sanghyang Widhi. Dia kekal tiada berubah, tiada dilahirkan, tua maupun mati. Tiada awal dan tiada akhir. Oleh karena itu tidak dapat mendengar, merasa, melihat, maupun mencium dan berpikir. Benar-benar bersih sebab tiada terjamah rasa suka duka. Ia tiada termasuk ke dalam siklus utpatti, sthiti dan pralina yaitu lingkungan kelahiran, hidup dan mati. Tak dapat dihitung sebab tiada terbilang.
Sadasiwa Tattwa
Kesadaran tingkat kedua Sadasiwa Tattwa berada di bawah Parama Siwa, juga sama bersifat gaib, suci nirmala yang menjadi jiwa dari segala yang bernyawa. Dijunjung dan dimuliakan serta dipikirkan oleh para Wiku. Meskipun seolah-olah sama kegaiban dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Parama Siwa, namun ada hal-hal yang dapat membedakannya. Dia telah mulai terjamah oleh kebingungan. Tetapi kebingungan yang ada pada beliau itu adalah berupa kekuatan (sakti) yang dapat memenuhi apa yang dikehendaki. Apa yang dipikirkan dan dikehendaki pasti terwujud dalam seketika. Kekuatan yang dapat memenuhi segala kehendak itu disebut juga Cadu Sakti artinya memiliki empat kemahakuasaan yang disebut:
•  Dujana Sakti (memiliki pengamatan tembus, Batel tingal)
•  Wibhu Sakti (memiliki kekuatan yang gaib)
•  Prabhu Sakti (memiliki kekuatan terhadap alam semesta)
•  Kriya Sakti (mempunyai kekuatan membentuk diri sekehendak hati).
Siwatma Tattwa
Kesadaran ketiga di bawah Sada Siwa Tattwa, dinamai Sanghyang Siwatma, juga disebut Sanghyang Mayasiwa Tattwa. Siwatma Tattwa inilah dikatakan mulai tercemar oleh kelembutan dari Tattwa yang berada di bawah yang disebut Acetana, yang berarti lupa atau tak sadar. Kesadaran yang telah bercampur dengan lupa atau bingung. Tegasnya Sanghyang Siwatma Tattwa telah terjamah oleh Triguna (Satwa, Rajah, Tamah).

Kebingungan inilah yang menyebabkan beliau itu gelisah ingin mengadakan Tattwa disini yaitu Purusa Tattwa menurun hingga pada Panca Mahabhuta Tattwa. Perlu pula ditegaskan bahwa Sanghyang Siwa yang tiga itu yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwatma itu hakekatnya adalah tunggal, semua bersifat suci, dan bersih yang menjadi sumber kehidupan alam semesta. Yang menyebabkan seakan-akan ada perbedaan sebenarnya terletak pada pengaruh kesadaran itu saja.
Demikianlah halnya ketika Sanghyang Siwa itu, dengan kesadaran beliau yang memenuhi alam semesta ini dapat bercampur oleh bermacam-macam warna seakan-akan beliau ini berbeda-beda. Jelaslah bahwa hanya pengaruh kesadaran beliau yang memenuhi alam semesta ini dapat bercampur oleh bermacam-macam warna seakan-akan beliau itu berbeda-beda. Jelaslah bahwa hanya pengaruh kesadaran beliau itulah yang kemudian terkena oleh Maya lalu bercampur. Itulah yang disebut Maya Siwa Tattwa. Kalau Cetana (Siwa Tattwa) bertemu dengan Acetana (Maya Tattwa) terjadilah Purusa Tattwa dan Pradana Tattwa.
Kembali pada pokok pembicaraan yaitu Rong Tiga dan Rong Kalih. Bagi arwah yang sudah masuk ke dalam Parama Siwa Tattwa maka beliau yang sudah bersthana di Ruang Tiga tidak lagi akan menitis atau menjadi bagian lagi dari keluarga asalnya.
Sedangkan Beliau yang baru ditingkat Sada Siwa Tattwa apalagi Maya Siwa Tattwa beliaulah yang bersthana di palinggih Ruang Kalih. Beliau masih berkomunikasi dengan warga yang ditinggal, beliau masih bisa “turun” (ngidih nasi) di keluarga-keluarga asalnya.
Tidak ada efeknya antara ngeroras metak atau ngeroras di bale atau upacara nista, madya dan utama sendiri. Yang menentukan adalah karma wasananya. Apakah harus tinggal di Maya Siwa Tattwa atau bisa terbebas ke Parama Siwa Tattwa. Kita bisa menentukan apakah leluhur kita itu bisa “turun” (ngidih nasi) pada keluarga kita atau tidak. Kalau tidak, artinya beliau sudah bersthana di Rong Tiga sudah menyatu dengan Purana Siwa. Memang ada rontal Gong Wesi sebagai berikut:
Yang distanakan di kemulan untuk dipuja bukanlah Dewa tetapi Pitara yang telah mencapai alam Dewa, oleh karena itu disebut Dewa Pitara. Fungsi Merajan Kemulan sebagai tempat Sang Hyang Atma disebutkan dalam beberapa lontar sebagai berikut :
……. ngarania ira sang Atma, ring Kamulan tengen Bapanta nga Sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga …..
artinya:
……namanya beliau Sang Atma, pada Kemulan kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada Kemulan kiri sebagai ibu namanya Siwatma, pada Kemulan tengah wujudnya adalah sang atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya Sanghyang Tunggal mempersatukan diri.
Penjelasan yang hampir sama disebutkan pada Lontar Usana Dewa sebagai berikut:
Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.
Artinya:
Pada kemulan nama Beliau adalah Sang Hyang atma, di Kemulan sebelah kanan adalah linggih Paratma adalah Bapak. Di Kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah ada wujudnya Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud Sang Hyang Tuduh.
Ada pengalaman pribadi penulis. Datuk penulis meninggal dan sudah di Palebon dan di Ligya. Suatu saat roh beliau menitis pada keluarga misan penulis. Tetapi umurnya hanya tiga oton (satu setengah tahun). Setelah meninggal kemudian menitis lagi pada keluarga kakak kandung penulis. Juga umurnya tiga oton. Akhirnya menitis lagi pada keluarga penulis sendiri. Juga umurnya tiga oton (satu setengah tahun). Setelah itu tidak pernah menitis lagi. Menurut pemikiran penulis pada waktu roh beliau menitis tiga kali roh beliau masih di Rong Kalih. Setelah itu roh beliau sudah melinggih di Rong Tiga. Sehingga tidak lagi menitis pada keluarga di dunia fana ini lagi. Jadi sekarang roh beliau yang sudah suci sekali sudah bersatu dengan Parama Siwa. Kalau istilah Bali, beliau sudah sedang ngayah di Pura Dalem sana.
SUMBER : (Majalah Sarad Bali - edisi Juni 2008). 
https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/427479_483539661675736_387231562_n.jpg
PELINGGIH RONG TIGA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar